lampung – Penyebab Harimau Sumatera Seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung, pada awal November 2025. Kematian satwa langka yang dilindungi tersebut memunculkan duka mendalam sekaligus kekhawatiran di kalangan pecinta lingkungan. Hasil pemeriksaan awal dari tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung mengungkapkan bahwa penyebab kematian diduga akibat kombinasi antara keracunan dan stres berat akibat luka lama yang tidak sembuh.
Ditemukan Tak Bernyawa di Area Hutan Lindung

Baca Juga : Pemuda Tulang Bawang Lampung Tewas Dibunuh Temannya, Pelaku Ditangkap
Harimau jantan tersebut pertama kali ditemukan oleh tim patroli gabungan BKSDA dan petugas TNBBS pada Selasa (4/11/2025) pagi, di kawasan hutan lindung Desa Sukabanjar, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus. Saat ditemukan, tubuh harimau itu tergeletak di tepi aliran sungai dengan kondisi sudah tidak bernyawa dan mulai mengalami pembusukan ringan.
Petugas yang menemukan bangkai harimau itu langsung melakukan pengamanan lokasi dan pengambilan sampel untuk keperluan nekropsi (autopsi satwa). Kepala BKSDA Bengkulu-Lampung, Romi Rahman, membenarkan peristiwa tersebut dan mengatakan bahwa penyelidikan penyebab kematian dilakukan secara hati-hati.
“Kami sangat berduka atas kehilangan satu individu harimau sumatera. Dari hasil pemeriksaan sementara, terdapat indikasi kuat bahwa kematian disebabkan oleh keracunan makanan yang diperparah dengan kondisi luka lama di bagian kaki belakang,” ujar Romi dalam konferensi pers di Bandar Lampung, Kamis (6/11/2025).
Ada Luka Lama dan Tanda-tanda Keracunan
Luka itu diperkirakan sudah berusia lebih dari dua minggu.
Selain itu, hasil pemeriksaan isi lambung juga mengindikasikan adanya zat kimia beracun yang masuk ke sistem pencernaan harimau, diduga berasal dari makanan bangkai yang sudah tercemar pestisida atau racun tikus.
“Kami menemukan residu racun pestisida jenis organofosfat dalam jaringan tubuhnya. Ini memperkuat dugaan bahwa harimau tersebut menelan daging hewan yang sebelumnya diracuni oleh manusia, mungkin dalam upaya mengusir satwa liar,” jelas dokter hewan konservasi, drh. Mega Wulandari.
Kemungkinan Harimau Keluar dari Habitat Akibat Minimnya Mangsa
Kondisi itu membuat harimau mendekati wilayah perkebunan masyarakat di sekitar hutan.
“Perubahan bentang alam akibat pembukaan lahan dan perambahan hutan membuat ruang jelajah harimau semakin sempit. Akibatnya, satwa ini sering berkonflik dengan manusia, mencari makanan di sekitar kampung, dan berisiko memakan umpan beracun,” ujar Romi menambahkan.
Beberapa warga juga mengaku sempat melihat harimau itu beberapa hari sebelum ditemukan mati. Mereka mengatakan hewan tersebut tampak pincang dan berjalan lambat di tepi kebun kopi.
